Minggu, 05 Mei 2013

Emansipasi Merajalela, Perempuan Leluasa



Emansipasi Merajalela, Perempuan Leluasa
oleh : amelia pu3
Peran perempuan dalam memajukan bangsa ini tak bisa dipandang sebelah mata lagi, pembuktian ini dicetuskan karena bangsa ini sempat dipimpin oleh seorang wanita. Dalam dunia politik sendiri banyak kaum hawa yang berkecimpung disana. Begitupun di setiap bidang profesi lain, banyak melahirkan perempuan-perempuan berbakat seperti dalam bidang jurnalistik, dakwah maupun entertain.
            Jauh sebelum pergerakan manusia-manusia modern sekarang, seorang tokoh perempuan bangsa ini telah berfikir untuk mengubah kehidupan dan nasib perempuan di tanah air. Adalah seorang perempuan revolusioner Raden Ajeng Kartini dengan tulisannya yang menjadi slogan sebagai gambaran kehidupan perempuan masa itu dengan masa setelahnya yakni “habis gelap terbitlah terang”.
            Perempuan pada periode beliau begitu terkekang, jangankan untuk berkarir untuk mengecap indahnya dunia pendidikan saja sampai setengah mati berjuang karena kondisi tak kondusif bagi dunia perempuan. Beliau yang berkesempatan menuntut ilmu lebih dari perempuan lain diwaktu itu merasa harus menaikkan derajat kaum hawa. Merasa miris melihat nasib-nasib perempuan sebayanya yang dirasa pantas untuk mendapatkan pendidikan lebih menjadi terkekang karena terhalang izin orang tua dan kondisi yang tak memungkinkan.
Tindakan yang dilakukan oleh R.A Kartini tersebut jauh sebelum dunia dan atmosfir Islam berkembang di bumi pertiwi. Ayat-ayat mengenai hak dan kewajiban perempuan memang telah terpapar jelas dalam Al-quran, hal ini diperkuat dengan terdapatnya surat An-nisaa yang berarti perempuan. Pada zaman nabi terdahulu kehidupan kaum perempuan tak lepas sebagai budak dan pelampiasan nafsu kaum adam. Sungguh terlalu (aksen Bang Haji Roma). Setelah itu turunlah ayat tentang penghargaan terhadap kaum perempuan bahkan surga pun terdapat di bawah telapak kaki ibu.
 Sekaranga apa? Apa yang kita berikan terhadap pahlawan yang telah bercucuran keringat bertaruh nyawa demi bebasnya kaum perempuan bertindak? Menjadi perempuan manja, padahal kita diajar untuk mandiri. Menjadi perempuan yang sering gonta-ganti pacar padahal yang akan menjadi ayah dari anak-anak yang kita lahirkan cuma seorang. Menjadi perempuan berperawakan seperti pria, padahal dalam Al-quran ditegaskan bahwa itu dilarang. Menjadi perempuan sok berkuasa padahal dulu sejatinya tanpa ada yang memperjuangkan, kita bukanlah siapa-siapa. Menjadi perempuan jahiliah yang mengumabar aurat kesana kemari, naudzubillahiminzalik.
Keleluasaan perempuan dalam bertindak sepertinya melenceng jauh dari yang diharapkan. Dulu, pahlawan revolusioner wanita R.A Kartini berharap tak lebih agar kehidupan perempuan sejahtera dengan mendapat kesempatan menuntut ilmu setingi-tingginya. Dalam Al-Quran dan sunnah juga telah dijelaskan apa saja yang menjadi hak dan kewajiban kita sebagai makhluk yang diciptakan dari tulang rusuk adam. Terlalu menuntut hak sehingga kewajiban terabaikan, begitu menurut persepsiku mengenai geliat kaum hawa di zaman ini.
Emansipasi boleh-boleh saja selama masih dalam koridor kewajaran hak dan kewajiban sebagai perempuan. Sebagai generasi yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa sudah sepatutnya kita berpikir sebelum bertindak. Selain just do it, think before action juga diperlukan demi terwujudnya mimpi kita sebagai perempuan yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan bangsa menjadi lebih maju.